
Pantai Tanjung Tinggi, Belitung yang menjadi Lokasi shooting film Laskar Pelangi. Tempo/Anggrita Desyani
Indonesia Negara Tujuan Investasi Jangka Panjang
RABU, 02 APRIL 2014 | 07:40 WIB
TEMPO.CO, Jakarta - Berdasarkan hasil sejumlah survei lembaga internasional, persepsi terhadap Indonesia mengalami perkembangan positif. Lembaga rating internasional terkemuka seperti Ficth Rating, Rating and Investment Information Inc., Japan Credit Rating Agency, Standard and Poor’s (S&P), dan Modys Investor Servise telah menempatkan Indonesia sebagai negara tujuan investasi jangka panjang (investment grade).
Menurut Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Mari E. Pangestu, Fitch Ratings mengumumkan pada bulan November 2013, memperkuat peringkat Indonesia menjadi BBB- dengan outlook stabil. Sebelumnya, Oktober 2013 lembaga Rating and Investment Information Inc. juga memberikan penilaian BBB-/stable outlook. Begitu juga dengan Japan Credit Rating Agency Ltd. pada Juli 2013 memberikan peringkat BBB-with stable outlook untuk Indonesia.
Dua lembaga rating lainnya S&P dan Moody’s sejak 2012 lalu tetap mempertahankan rating Indonesia di posisi yang aman untuk investasi jangka panjang, masing–masing dengan penilaian BB+level for long-term dan Baa3 with stable outlook.
Hasil survei terbaru oleh Japan Bank International Corporation (JBIC) menyebutkan, Indonesia berada dalam peringkat tertinggi dalam persepsi pelaku bisnis global sebagai negara tujuan investasi dalam jangka menengah atau sekitar 3 tahun ke depan. Dalam survei JIBC yang melibatkan 488 pelaku usaha sebagai responden pada 2013 lalu, meminta responden untuk memilih lima negara yang dinilai memberi prospek investasi yang layak dipertimbangkan dalam jangka waktu tiga tahun lebih ke depan.
Hasilnya, 219 responden (44,9 persen) memasukkan Indonesia sebagai negara pilihan yang layak dipertimbangkan. "Hasil survei membuat peringkat Indonesia naik dari peringkat tiga ke peringkat pertama," kata Mari. Sebelumya diduduki oleh Cina. Di posisi kedua India 43,6%; ketiga Thailand 38,5%; keempat RRT 37,5%; dan kelima Vietnam 30,3%.
Sementara itu, berdasarkan data The Travel and Tourism Competitiveness Index yang dilansir World Economic Forum (WEF) 2013, daya saing pariwisata Indonesia mampu naik empat peringkat. Indonesia juga menonjol di kategori culture and heritage (budaya dan warisan sejarah) dan rich natural resources (kekayaan dan keindahan alam).
"Untuk faktor harga, Indonesia dipandang sebagai destinasi yang berdaya saing karena value for money berada pada peringkat sembilan dalam daya saing harga dari 140 negara yang diteliti WEF," kata Mari.
Tren lain yang juga menguntungkan Indonesia, semakin tingginya minat wisatawan terhadap perjalanan wisata budaya. Seperti dilaporkan dalam Economic Creative Report 2013: Widening Local Development Pathway yang diterbitkan oleh UNESCO dan UNDP bahwa dalam tataran global saat ini sedang berlangsung tren di mana warisan budaya kini menjadi aset yang semakin berharga dan makin menyatu dengan pariwisata.
Sebagai negara yang kaya dengan ragam budaya dan peninggalan budaya, tren ini memberikan peluang bagi Indonesia untuk lebih mengintegrasikan ekonomi kreatif berbasis budaya sebagai daya tarik pariwisata untuk lebih mendorong pertumbuhan perekonomian nasional, terutama bagi usaha skala kecil dan menengah.
Tren gaya hidup ekonomi hijau (ramah lingkungan) yang makin meningkat memberi prospek yang lebih cerah bagi Indonesia, mengingat kekayaan dengan keragaman hayati serta masyarakat adat untuk mengembangkan wisata alam dan ekowisata.
Berbagai perkembangan positif tersebut juga terlihat sudah diantipasi oleh sejumlah pelaku industri pariwisata seperti terlihat pada pertumbuhan nilai investasi. Tahun 2013 lalu, investasi di sektor pariwisata mencapai US$ 602,648 juta terdiri atas US$ 462,47 juta dalam bentuk PMA dan US$ 140,18 juta dalam bentuk PMDN. Sebagian besar diperuntukkan pembangunan hotel dan restoran.
Beberapa contoh investasi yang sedang dan akan dilakukan dalam mengantisipasi meningkatnya permintaan, termasuk pada second dan third tier cities, antara lain tiga operator dalam negeri (Grup Santika Hotel, Tauzia Hotel, dan Dafam Hotel) tercatat sebagai operator nasional yang agresif melakukan ekspansi. Rencananya, operator ini akan menambah 140 jaringan hotel mereka sampai 2015 mendatang. (Baca: Korsel Akan Promosikan Pariwisata Jawa Timur)
Operator asing Carlson Rezidor bersama mitranya PT Panorama Group merencanakan memperluas jaringannya dengan membangun 20 hotel baru dalam 5–7 tahun ke depan. Empat di antaranya mulai direalisasikan pada tahun ini di Lampung, Bali, Makassar, dan Bandung, dengan nilai investasi sekitar US$ 250 juta.
Di samping itu, operator asing yang bekerja sama dengan sejumlah investor dalam negeri juga melakukan ekspansi. Saat ini sudah ada 76 Hotel Aston, termasuk Aston Belitung yang baru saja diresmikan, dan direncanakan 150 lagi dalam 3–5 tahun ke depan. Sedangkan Accor group yang sudah beroperasi selama 20 tahun di Indonesia dan mengoperasikan 70 hotel di 24 kota di Indonesia akan menargetkan 100 hotel atau 20.000 kamar pada tahun 2015.
EVIETA FADJARWisata Kereta Api Termahal Habiskan Rp 370 JutaChangi, Bandara Terbaik di DuniaSulawesi Tenggara Luncurkan Hallo Sultra 2014Suka Coba Kuliner Saat Tur, GIGI Pernah 'Dipalak'Liburan, Antrean Bus Wisata Membludak
Menurut Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Mari E. Pangestu, Fitch Ratings mengumumkan pada bulan November 2013, memperkuat peringkat Indonesia menjadi BBB- dengan outlook stabil. Sebelumnya, Oktober 2013 lembaga Rating and Investment Information Inc. juga memberikan penilaian BBB-/stable outlook. Begitu juga dengan Japan Credit Rating Agency Ltd. pada Juli 2013 memberikan peringkat BBB-with stable outlook untuk Indonesia.
Dua lembaga rating lainnya S&P dan Moody’s sejak 2012 lalu tetap mempertahankan rating Indonesia di posisi yang aman untuk investasi jangka panjang, masing–masing dengan penilaian BB+level for long-term dan Baa3 with stable outlook.
Hasil survei terbaru oleh Japan Bank International Corporation (JBIC) menyebutkan, Indonesia berada dalam peringkat tertinggi dalam persepsi pelaku bisnis global sebagai negara tujuan investasi dalam jangka menengah atau sekitar 3 tahun ke depan. Dalam survei JIBC yang melibatkan 488 pelaku usaha sebagai responden pada 2013 lalu, meminta responden untuk memilih lima negara yang dinilai memberi prospek investasi yang layak dipertimbangkan dalam jangka waktu tiga tahun lebih ke depan.
Hasilnya, 219 responden (44,9 persen) memasukkan Indonesia sebagai negara pilihan yang layak dipertimbangkan. "Hasil survei membuat peringkat Indonesia naik dari peringkat tiga ke peringkat pertama," kata Mari. Sebelumya diduduki oleh Cina. Di posisi kedua India 43,6%; ketiga Thailand 38,5%; keempat RRT 37,5%; dan kelima Vietnam 30,3%.
Sementara itu, berdasarkan data The Travel and Tourism Competitiveness Index yang dilansir World Economic Forum (WEF) 2013, daya saing pariwisata Indonesia mampu naik empat peringkat. Indonesia juga menonjol di kategori culture and heritage (budaya dan warisan sejarah) dan rich natural resources (kekayaan dan keindahan alam).
"Untuk faktor harga, Indonesia dipandang sebagai destinasi yang berdaya saing karena value for money berada pada peringkat sembilan dalam daya saing harga dari 140 negara yang diteliti WEF," kata Mari.
Tren lain yang juga menguntungkan Indonesia, semakin tingginya minat wisatawan terhadap perjalanan wisata budaya. Seperti dilaporkan dalam Economic Creative Report 2013: Widening Local Development Pathway yang diterbitkan oleh UNESCO dan UNDP bahwa dalam tataran global saat ini sedang berlangsung tren di mana warisan budaya kini menjadi aset yang semakin berharga dan makin menyatu dengan pariwisata.
Sebagai negara yang kaya dengan ragam budaya dan peninggalan budaya, tren ini memberikan peluang bagi Indonesia untuk lebih mengintegrasikan ekonomi kreatif berbasis budaya sebagai daya tarik pariwisata untuk lebih mendorong pertumbuhan perekonomian nasional, terutama bagi usaha skala kecil dan menengah.
Tren gaya hidup ekonomi hijau (ramah lingkungan) yang makin meningkat memberi prospek yang lebih cerah bagi Indonesia, mengingat kekayaan dengan keragaman hayati serta masyarakat adat untuk mengembangkan wisata alam dan ekowisata.
Berbagai perkembangan positif tersebut juga terlihat sudah diantipasi oleh sejumlah pelaku industri pariwisata seperti terlihat pada pertumbuhan nilai investasi. Tahun 2013 lalu, investasi di sektor pariwisata mencapai US$ 602,648 juta terdiri atas US$ 462,47 juta dalam bentuk PMA dan US$ 140,18 juta dalam bentuk PMDN. Sebagian besar diperuntukkan pembangunan hotel dan restoran.
Beberapa contoh investasi yang sedang dan akan dilakukan dalam mengantisipasi meningkatnya permintaan, termasuk pada second dan third tier cities, antara lain tiga operator dalam negeri (Grup Santika Hotel, Tauzia Hotel, dan Dafam Hotel) tercatat sebagai operator nasional yang agresif melakukan ekspansi. Rencananya, operator ini akan menambah 140 jaringan hotel mereka sampai 2015 mendatang. (Baca: Korsel Akan Promosikan Pariwisata Jawa Timur)
Operator asing Carlson Rezidor bersama mitranya PT Panorama Group merencanakan memperluas jaringannya dengan membangun 20 hotel baru dalam 5–7 tahun ke depan. Empat di antaranya mulai direalisasikan pada tahun ini di Lampung, Bali, Makassar, dan Bandung, dengan nilai investasi sekitar US$ 250 juta.
Di samping itu, operator asing yang bekerja sama dengan sejumlah investor dalam negeri juga melakukan ekspansi. Saat ini sudah ada 76 Hotel Aston, termasuk Aston Belitung yang baru saja diresmikan, dan direncanakan 150 lagi dalam 3–5 tahun ke depan. Sedangkan Accor group yang sudah beroperasi selama 20 tahun di Indonesia dan mengoperasikan 70 hotel di 24 kota di Indonesia akan menargetkan 100 hotel atau 20.000 kamar pada tahun 2015.
EVIETA FADJARWisata Kereta Api Termahal Habiskan Rp 370 JutaChangi, Bandara Terbaik di DuniaSulawesi Tenggara Luncurkan Hallo Sultra 2014Suka Coba Kuliner Saat Tur, GIGI Pernah 'Dipalak'Liburan, Antrean Bus Wisata Membludak

Gedung Lawangsewu. TEMPO/Budi Purwanto
Libur Panjang, Lawang Sewu Dikunjungi 6.000 Orang
MINGGU, 20 APRIL 2014 | 13:37 WIB
TEMPO.CO, Semarang - Libur panjang pada Jumat-Ahad, 18-20 April 2014, dimanfaatkan masyarakat untuk mengunjungi Museum Kereta Api di Lawang Sewu, Semarang. Jumlah pengunjung selama libur panjang ini tercatat 6.000 per hari.
"Angka ini meningkat jauh lebih dibanding rata-rata hari biasa yang hanya 1.000 kunjungan," kata petugas pelayanan Museum Kereta Api, Dimas Karebet, Ahad, 20 April 2014.
Sebagian besar pengunjung Lawang Sewu berasal dari luar Kota Semarang. Menurut Dimas, saat ini pengunjung museum tak bisa menikmati ruang bawah tanah yang menjadi salah satu obyek wisata. Sebab, pengelola telah merenovasi salah satu ruang yang pernah digunakan sebagai penjara itu.
Pantauan Tempo, tingginya kunjungan ke gedung yang menjadi saksi sejarah perang lima hari di Semarang itu mengakibatkan bus dan kendaraan pribadi pengunjung diparkir di sekitar Tugu Muda, Semarang.
Hayuzar, 28 tahun, seorang pengunjung asal Aceh, bersama istri dan enam anggota keluarganya datang untuk menikmati Lawang Sewu. Hayuzar yang sudah dua kali datang ke tempat wisata itu mengaku tak bosan menikmati bangunan tua yang dirancang oleh Thomas Karstens tersebut. "Saya ingin tahu arsitekturnya yang unik maupun koleksi kereta dan sejarahnya," kata Hayuzar.
Hayuzar dan keluarganya terkesan dengan bangunan yang berada di tengah kota itu. Apalagi, kehadiranya yang kedua kali itu menampakkan kondisi bangunan tidak lagi angker dan kumuh karena sudah tertata.
"Angka ini meningkat jauh lebih dibanding rata-rata hari biasa yang hanya 1.000 kunjungan," kata petugas pelayanan Museum Kereta Api, Dimas Karebet, Ahad, 20 April 2014.
Sebagian besar pengunjung Lawang Sewu berasal dari luar Kota Semarang. Menurut Dimas, saat ini pengunjung museum tak bisa menikmati ruang bawah tanah yang menjadi salah satu obyek wisata. Sebab, pengelola telah merenovasi salah satu ruang yang pernah digunakan sebagai penjara itu.
Pantauan Tempo, tingginya kunjungan ke gedung yang menjadi saksi sejarah perang lima hari di Semarang itu mengakibatkan bus dan kendaraan pribadi pengunjung diparkir di sekitar Tugu Muda, Semarang.
Hayuzar, 28 tahun, seorang pengunjung asal Aceh, bersama istri dan enam anggota keluarganya datang untuk menikmati Lawang Sewu. Hayuzar yang sudah dua kali datang ke tempat wisata itu mengaku tak bosan menikmati bangunan tua yang dirancang oleh Thomas Karstens tersebut. "Saya ingin tahu arsitekturnya yang unik maupun koleksi kereta dan sejarahnya," kata Hayuzar.
Hayuzar dan keluarganya terkesan dengan bangunan yang berada di tengah kota itu. Apalagi, kehadiranya yang kedua kali itu menampakkan kondisi bangunan tidak lagi angker dan kumuh karena sudah tertata.
http://www.tempo.co/read/beritafototravel/13639/Menikmati-Sunset-di-Pantai-Arpoador-Rio-de-Janeiro/4
Menikmati Sunset di Pantai Arpoador, Rio de Janeiro
Wanita menikmati pemandangan matahari terbenam di pantai Arpoador di Rio de Janeiro (4/2). Suhu musim panas untuk hari di Rio mencapai tinggi 38 derajat celsius (100 Fahrenheit). REUTERS/Sergio Moraes
Menikmati Sunset di Pantai Arpoador, Rio de Janeiro
Seorang pria menikmati pemandangan matahari terbenam di pantai Arpoador di Rio de Janeiro (4/2). Suhu musim panas untuk hari di Rio mencapai tinggi 38 derajat celsius (100 Fahrenheit). REUTERS/Sergio Moraes
Kehangatan di Bawah Kaki Gunung Papandayan
Pendaki beristirahat di area kemah Gunung Papandayan, Garut. TEMPO/ Nita Dian
Tidak ada komentar:
Posting Komentar