Merdeka.com - Baca juga:
Evaluasi sederhana di akhir tahun
Berpikir alternatif saat kritis
William: Mimpi start-up lokal bernilai Rp 1,2 Triliun
Sumpah
Andai Susi adalah sebuah produk
Genjot wisata dengan jual brand Bali
Dunia entrepreneur (kewirausahaan/pengusaha) kehilangan inspiratornya, Bob Sadino.
Pengusaha sukses, yang mulai dari susah payah, jatuh bangun, dengan
kesederhanaan, dan suka berbagi kiat sukses kepada siapapun yang mau
buka usaha, itu pergi meninggalkan kita selamanya.
Bob telah memberikan bukti, betapa susah sekaligus nikmatnya
berbisnis. Mungkin gagal mungkin sukses. Tapi, Bob bukan sekadar bicara
layaknya motivator-motivator yang sering tampil di TV yang tak pernah
punya bisnis, cuma bicara saja, tapi Bob memberi contoh kehidupannya.
Nyata, fakta, bukan maya dan khayal yang cuma dibungkus kata dan
kalimat indah.
Meski sudah meninggal, Bob akan dikenang. Banyak ilmu yang
ditorehkan dari segala upaya dan usahanya yang riil selama ini. Juga
dibukukan dan sering diseminarkan. Rendah hati dan mau berbagi pada
siapapun yang mau usaha. Ia sengaja begitu karena mau menyisakan
dokumentasi penting: Saya tak mau pengalaman dan pengetahuan saya
terkubur bersama tubuh saya ketika mati kelak.
Ucapan ini memiliki pesan yang kuat, hari-hari ini. Dia membuktikan
ketika dia sudah wafat. Beberapa grup atau komunitas wirausaha atau
berusaha, seperti Tangan Di Atas (TDA), Akademi Berbagi, Entrepreneur
Jakarta, Entrepeneur Corner Kaskus, Just Do Action (JDA Community),
Ads-ID, Komunitas Entrepreneur Muda (KEM), Ciputra Entrepreneurship,
dan masih banyak lagi, ramai membicarakan perginya bapak entrepreneur
nyentrik ini. Bukan sekadar berita wafatnya, tapi menggali kembali wisdom, nasihat, dan ajaran-ajarannya, justru ketika makamnya justru belum digali.
Bagi para pengusaha, Bob Sadino adalah teladan, guru hidup, juga punya ajaran jelas karena terdokumentasi dalam beberapa buku seperti Belajar Goblok dari Bob Sadino, Bob Sadino: Mereka Bilang Saya Gila, dan berbagai tulisan orang yang mensarikan dari ucapan-ucapannya di seminar.
Beberapa pelajaran yang singkat misalnya; (1) kalau mau bisnis harus
berani, (2) jangan terlalu banyak analisis, (3) sadar sukses tidak
instan, (4) punya mimpi/cita-cita besar, (5) yakin & positif
thinking.
Bob, namanya lengkapnya Bambang Mustari Sadino, lahir Lampung 9
Maret 1933 lalu, anak kelima dari lima bersaudara keluarga Sadino. Dia
dikenal suka celana pendek, bilang pikirannya pendek, tapi meyakini
langkah panjang dimulai dari langkah yang pendek-pendek. Ayahnya, Pak
Sadino, seorang guru asal Solo yang mengajar sekolah lanjutan di
Bandarlampung. Bob menemui kenyataan hidup yang membelokkan seluruh
hidupnya ketika 19 tahun, saat ayahnya meninggal.
Harta orang tuanya dipakai jalan-jalan sampai Belanda. Bekerja di
sana, mulai dari bawah, pegawai rendahan dan kotor. Pernah jadi
karyawan Unilever, Jakarta Lloyd (Amsterdam dan Hamburg), akhirnya
sadar hidup jadi karyawan tak akan mengubah drastis mimpinya. Dia
pulang ke Jakarta dengan mobil Mercy-nya, disewakan dan dia jadi sopir
sekaligus. Mobilnya tabrakan, dia bangkrut dan stress. Lalu ternak ayam
petelor, mulailah merambah usaha makanan, sayur hidroponik, buka
supermarket Kemchick dan suplier sosis Kemfood, sayuran hydroponik
KemFarm. Itulah sekelumit liku hidupnya. Sebagai aksentuasi simbol
mengenangnya, adalah bapak entrepreneur bercelana pendek.
Bob percaya bahwa setiap langkah sukses selalu diawali kegagalan
demi kegagalan. Perjalanan wirausaha tidak semulus yang dikira. Ia dan
istrinya sering jungkir balik. Baginya uang bukan yang nomor satu. Yang
penting kemauan, komitmen, berani mencari dan menangkap peluang.
Bob mengingatkan kata-kata bijak dari Mahatma Gandhi, yang bilang
bahwa kita harus bertindak..bertindak..dan bertindak. Sebab, Gandhi
bilang, kita tak akan pernah tahu apakah usaha yang kita lakukan
berhasil atau tidak, tapi kalau kita tak melakukan sudah pasti tak
dapat apa-apa.
Tampaknya Bob menyadari setiap usaha selalu ada risiko. Ini juga
dalam konsep kekinian, bisa kita temui dalam satu falsafah entrepreneur
dunia Mark Zuckerberg. Bahwa risiko terbesar justru kalau kita tidak
mengambil risiko. Sebab di dunia yang berubah cepat, satu-satunya
strategi yang dijamin gagal itu adalah jika tak berani ambil risiko.
Banyak kalimatnya yang terngiang di kuping, bikin gemes orang untuk kemudian memulai usaha. Suatu ketika Bob Sadino ditanya bisnis apa yang bagus. Dengan enteng dijawab: Bisnis yang bagus itu yang DIBUKA, bukan ditanya terus!
Anda setuju dengan ucapan beliau?
*)Penulis adalah COO KapanLagi Network (KLN), Sekjen APJII, Penggerak KlikIndonesia, co-Founder Binokular Media Utama
http://www.merdeka.com/khas/bob-sadino-inspirator-pengusaha.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar